Sabtu, 27 Oktober 2012

KH Abdus Salam alias Mbah Soichah




KH Abdus Salam alias Mbah Soichah adalah ulama dan pendekar yang sekitar tahun 1825 babat alas/ membuka hutan semak belukar untuk dijadikan lahan pemukiman yang kemudian dikenal sebagai Dusun Gedang, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang. Kehadiran KH Abdus Salam di samping membuka semak belukar menjadi perkampungan juga memiliki misi untuk mengembangkan agama Islam di daerah yang ia tinggali. Mula-mula ia mendirikan sebuah langgar sederhana dan membangun 3 kamar untuk tempat istirahat para santri yang mengaji ilmu agama padanya. Langgar dan tiga kamar inilah yang kelak menjadi cikal bakal atau embrio berdirinya Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang yang kini memiliki santri lebih dari 5.000 orang.


Di tengah ketenangan dan kedamaian suasana batin Abdussalam selepas menaklukkan semak dan mendidik santri, ternyata pihak penjajah, Belanda, merasa terancam. Belanda khawatir KH Abdus Salam akan menghimpun kekuatan untuk menentangnya jika pesantrennya terus berkembang. Dari kekhawatiran ini Belanda berkali-kali mencoba memanggil Abdussalam. Namun, naluri sebagai seorang mantan pasukan perang Pangeran Diponegoro membuatnya tidak cepat merespon untuk memenuhi panggilan tersebut. Abdussalam tahu bahwa, jika memiliki keinginan, maka Belanda akan menggunakan berbagai cara, termasuk memanggil seseorang untuk berunding, yang ujung-ujung hanya untuk memantapkan posisinya dalam menjajah negeri ini.


Tiga kali Belanda mencoba memanggil KH Abdus Salam. Pada panggilan pertama dan kedua pihak Belanda kembali dengan tangan hampa, yakni KH Abdus Salam tidak mengindahkan panggilan tersebut. Mengingat sudah dua kali dipanggil dengan cara dibujuk “baik-baik” tidak mau datang, Belanda menganggap KH Abdus Salam telah membangkang dan menentang mereka. Karena itu pada pemanggilan ketiga Belanda memerintahkan utusannya agar mampu membawa KH Abdus Salam menghadap dalam keadaan apapun. Jika tetap membangkang, maka harus dipaksa. Di pihak lain, KH Abdus Salam juga sudah kesal karena merasa ketenangannya berdakwah telah diusik oleh Belanda.


Pada pemanggilan ketiga Belanda mengirim kurir yang gagah berani dengan mengendarai bendi. Sesuai dengan misi tugasnya untuk menghadirkan KH Abdus Salam dalam keadaan apapun, kurir itu berkata dengan kata-kata kasar dan memaksa. KH Abdus Salam yang sudah kesal terhadap Belanda tersinggung lalu spontan membentak kurir tersebut. Keajaiban terjadi, begitu kata-kata bentakan itu dilontarkan KH Abdus Salam, kurir belanda itu langsung kelenger, mati bersama kuda yang membawanya.


Tewasnya kurir Belanda tersebut cepat tersebar ke masyarakat. Sejak saat itulah Abdussalam dijuluki oleh masyarakat dengan sebutan Shoichah, atau “Mbah Shoichah”, yang artinya bentakan. KH Abdus Salam hingga kini tetap dikenal, dikenang, dan dihormati sebagai Pendiri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Pada Dari KH Abdus Salam alias Mbah Shoichah dan istrinya, Nyai Muslimah, kelak melahirkan keturunan ulama-ulama besar seperti Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari (Pendiri dan Rais Akbar NU), K.H. Abdul Wahab Chasbullah (Pendiri dan Rais Am Pertama NU), K.H. Abdul Wachid Hasyim (Tokoh NU dan Mantan Menteri Agama RI), K.H. Muhammad Wahib Wahab (Tokoh NU, Mantan Menteri Urusan Kerja Sama Sipil-Militer RI, dan Mantan Menteri Agama RI), K.H. Abdurrahman Wachid (Mantan Ketua Umum PBNU dan Mantan Presiden RI).


Inilah Asmak “Bentakan” KH Abdus Salam dari Ponpes Gedang yang mampu membuat lumpuh bahkan meninggal dunia tersebut. Bentakan itu adalah sebuah ayat di dalam Al Qur’an Surah Yasin: 29:


=== IN KAANAT ILLAA SHAIHATAN WAAHIDATAN FA-IDZAAHUM KHAAMIDUUN ===


artinya: Tidaklah (ia) adzab itu melaikan satu teriakan saja maka tiba-tiba mereka mati.


Silahkan bila ingin mewiridkan asmak ini dengan jumlah 313 X selesai Sholat Fardhu selama 7 hari (14, 21 hari dst lebih banyak lebih baik dengan jumlah kelipatan 7). Bila ingin menggunakannya, cukup teriakkan kalimat itu di hadapan musuh. Insya Alloh, musuh sesakti dan sedigdaya apapun akan lumpuh.


Dahului dengan tawassul kirim Al Fatihah sebagaimana biasa dimulai dari Rasulullah hingga kepada KH Abdus Salam.


Matur Nuwun.


@@@


Foto cucu KH Abdus Salam == Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar